Review Dua Garis Biru (2019) |Bukan Sekedar Romance-Comedy

Dua Garis Biru mendapatkan respon negatif bahkan sebelum filmnya tayang. Banyak orang mengisi petisi yang menyebutkan bahwa film ini menjerumuskan. Tapi Gina S. Noer berhasil membungkam orang-orang tersebut lewat kerja kerasnya di film ini.

garismwfjngm2njuzxkeyxkfqcgdeqxvynzkzodk2mzc40._v1_

The Plot

Skenario garapan Gina S. Noer ini sangat detail dan menyentuh. Gina berhasil menuangkan persoalan tabu menjadi semakin dekat. Alih-alih menghakimi, Gina membuat kita memahami bagaimana seharusnya kita bersikap kepada ‘korban kehamilan muda’.

Tenang aja, Dua Garis Biru bukan rom-com menye-menye. Ceritanya berjalan cepat, langsung ke inti. Adegan cheesynya cuma di awal. Naskahnya berfokus pada keadaan Dara yang hamil. Jadi gak terasa cringe sama sekali.

garisfilm-dua-garis-biru-gagalnya-sekolah-beri-pendidikan-seks-lcmqzlh0lt

Yang gue suka, Gina membuat film tentang seks edukasi dan ilmu parenting dengan menyindir kejadian yang sebenarnya banyak terjadi di lingkungan kita. Penggunaan metafora seperti pada strawberry dan ondel-ondel juga menjadi poin plus selanjutnya.

Banyak orang dibuat bertanya-tanya, apakah film ini sad ending atau happy ending? Dua Garis Biru justru menawarkan ending yang anti-klimaks. Dan tentu aja, gue suka banget!

D-YOjkeU4AAIuuD

The Technic

Siapa kira sutradara debutan, Gina S. Noer justru punya kualitas yang memukau?

Gina membuat banyak adegan dalam film menjadi semakin menyentuh dengan pemilihan shoot yang tepat. Scene yang perlu dihighlight tentu aja, UKS. Semua cast berkumpul dengan menuangkan emosi masing-masing. Yang lebih kerennya lagi, scene tersebut adalah single take.  Kayaknya, itu adalah 6 menit paling memukau di film ini.

garis-biru-cover

Semuanya keren. Mulai dari sinematografi garapan Padri Nadeak yang timingnya selalu tepat. Pemilihan lokasi juga berperan penting. Konflik si kaya dan si miskin di sini jadi terasa lebih real. Mengingatkan gue dengan Parasite. Editing, desain produksi sampai wardrobenya juga juara. Mungkin salah satu kekurangannya adalah keputusan membuat kulit Angga hitam. Hmm.. emangnya orang miskin itu harus hitam ya? Kadang kulit Angga malah gak konsisten.

Scoringnya terasa film arthouse. Mungkin karena pengisinya adalah Banda Neira, Rara Sekar, Daramuda, Angsa & Serigala dan Kunto Aji kali ya. Tapi yang paling gue suka adalah penggunaan Jikalaunya Naif, sumpah keren banget. Gue sampai nangis pas scene itu 😦

film-dua-garis-biru-7

The Character

Casting Directornya perlu gue sembah kayaknya hahaha. Abis, castnya keren semua sih. Angga Yunanda bermain dengan luwes. Menurut gue, aktingnya di film ini adalah kualitas aktingnya yang terbaik dibandingkan dengan film-film sebelumnya. Kegalauan dan keinginan dia untuk bertanggungjawab cukup bisa disampaikan dengan baik.

DUA GARIS BIRU (2019) | Dir. Gina S. Noer | Angga Yunanda, Zara JKT48

Kalau kemarin di Keluarga Cemara akting Zara ini keren, di film ini, kualitasnya jauh meningkat. Gue suka banget cara dia menuturkan kalimat-kalimat sindirannya. Kayaknya dia bisa masuk pemeran utama wanita terbaik deh di Piala Citra nanti.

film-dua-garis-biru-6

Keluarga Bima. Arswendy Beningswara yang bermain apik lewat sentuhan bapak yang sabar. Rachel Amanda yang meskipun scenenya sedikit juga punya daya tarik sendiri lewat celetukan-celetukannya. Cut Mini menggambarkan kekecewaan seorang ibu yang sangat menyentuh. Apalagi, scene saat berdoa selepas salat.

DUA GARIS BIRU (2019) | Dir. Gina S. Noer | Angga Yunanda, Zara JKT48

Keluarga Dara. Maisha Kanna bermain sesuai porsinya, cukup menyentuh saat dia menyanyikan lagu Jikalau. Dwi Sasono tampil serius, jauh dari karakter Mas Adi di Tetangga Masa Gitu yang selalu nempel di otak gue hahaha. Tapi yang paling gue suka justru aktingnya Lulu Tobing. Keputusan dia mengambil peran ini sangat tepat jika dia ingin kembali terjun ke dunia hiburan. Cuma lewat gestur dan tatapannya, dia berhasil membuat kita memahami betapa kecewa (Tetapi tetap sayangnya) seorang ibu.

DUA GARIS BIRU (2019) | Dir. Gina S. Noer | Angga Yunanda, Zara JKT48

The Conclusion

Dua Garis Biru is a beautiful rollercoaster movie. Lucu, sedih, kecewa, mengharukan. Semuanya ngeblend. Bukan cuma sekedar romance-comedy, film ini justru membuat kita memahami pentingnya seks edukasi dan ilmu parenting. Pesan moralnya jauh dari menggurui, apalagi menghakimi. Dua Garis Biru berusaha sedekat mungkin dengan kehidupan kita sehari-hari. Sebuah sajian yang sangat gue rekomendasikan!

Note penting: Jangan lupa bawa tissue yang banyak ya.

Rating: 4/5

dua garis biru

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s